Mengapa Pengusaha Kuliner Lebih Pilih Rehab Ketimbang Bangun Baru?

Mengapa Pengusaha Kuliner Lebih Pilih Rehab
Ilustrasi: OpiniMahe: Mengapa Pengusaha Kuliner Lebih Pilih Rehab Ketimbang Bangun Baru? (Sumber Foto: Dok. WANI).

WartaNiaga.IDSimak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengapa Pengusaha Kuliner Lebih Pilih Rehab Ketimbang Bangun Baru?

 

Mengapa Pengusaha Kuliner Lebih Pilih Rehab Ketimbang Bangun Baru?
Oleh: Mahendra Utama*

 

Fenomena Bangunan Lama Bernyawa Baru

Salah satu ciri khas bisnis kuliner di Rawa Laut, Pahoman, Sultan Agung, dan Ryacudu adalah pemanfaatan bangunan lama dengan sentuhan rehabilitasi ringan.

Dari One Recipe yang menempati bangunan eksisting hingga berbagai kafe di Rawa Laut yang mengusung konsep rumah vintage. Fenomena ini bukan tanpa alasan.

Pertimbangan Ekonomi: Efisiensi Modal

Pertimbangan pertama adalah efisiensi biaya. Membangun baru memerlukan investasi besar untuk lahan, konstruksi, dan perizinan.

Sementara merehabilitasi bangunan eksisting hanya memerlukan biaya 30-50 persen dari biaya bangun baru. Ini krusial bagi UMKM kuliner yang umumnya memiliki modal terbatas.

Kedua, kecepatan operasional. Rehabilitasi ringan memungkinkan usaha beroperasi dalam hitungan minggu, bukan bulan atau tahun. Dalam bisnis kuliner, time to market adalah faktor penentu kesuksesan.

Nilai Nostalgia dan Daya Tarik Estetika

Bangunan tua memiliki karakter yang tidak bisa ditiru. D’Arch Cafe yang menempati rumah berusia 70-80 tahun berhasil mempertahankan keindahan klasiknya.

Waroeng Diggers di Kompleks Besi Baja Pahoman mengusung gaya natural klasik yang mendukung pengunjung betah berlama-lama.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumen masa kini mencari pengalaman (experience) bukan sekadar makanan.

Bangunan dengan nuansa vintage dan heritage justru menjadi unique selling proposition yang membedakan dari kompetitor.

Teori Adaptive Reuse

Fenomena ini sejalan dengan teori adaptive reuse dalam arsitektur dan perencanaan kota memanfaatkan kembali bangunan lama untuk fungsi baru tanpa mengubah struktur dasarnya.

Pendekatan ini tidak hanya ekonomis tetapi juga berkelanjutan dan melestarikan wajah kota. (*)
—————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.