WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, berjudul: Dominasi Bus di Rute Lampung-Bandung: Pilihan Rasional Warga.
Dominasi Bus di Rute Lampung-Bandung: Pilihan Rasional Warga
Oleh: Mahendra Utama*
Jalur Darat yang Semakin Efisien
Sebelum Wings Air menghidupkan kembali penerbangan langsung pada Agustus 2026, mayoritas masyarakat Lampung telah bertahun-tahun mengandalkan jalur darat.
Tersambungnya Tol Trans-Sumatra dan jaringan Tol Trans-Jawa secara penuh menjadi tulang punggung utama yang mempertahankan eksistensi moda darat ini.
Moda bus antarkota seperti Perum DAMRI dan PO Kramat Djati tetap menjadi primadona berkat tarif yang ramah di kantong dan kenyamanan armada kelas eksekutif hingga royal class.
Data harga tiket memperkuat argumen ini. Bus kelas ekonomi AC dari Bandar Lampung ke Bandung dibanderol Rp270.000–Rp320.000, kelas eksekutif Rp350.000–Rp420.000, dan kelas sleeper Rp450.000–Rp550.000.
Sementara itu, tiket pesawat Wings Air untuk rute yang sama diperkirakan jauh lebih mahal selisihnya bisa mencapai 26 kali lipat untuk kelas ekonomi terendah. Dalam konteks inilah teori utilitas konsumen bekerja secara elegan.
Teori Utilitas: Ketika Waktu Kalah oleh Biaya
Berdasarkan Teori Utilitas Konsumen, pengguna jasa transportasi akan menjatuhkan pilihan moda berdasarkan pertimbangan rasional antara biaya yang dikeluarkan dan nilai kepuasan yang didapatkan.
Jalur udara unggul mutlak dalam utilitas waktu kurang dari dua jam dari bandara ke bandara. Sebaliknya, jalur darat menawarkan utilitas berupa efisiensi biaya yang sangat tinggi serta fleksibilitas muatan.
Waktu tempuh bus memang 9–12 jam, sudah termasuk penyeberangan feri Selat Sunda dan perjalanan melintasi tol. Namun, bagi sebagian besar warga, selisih waktu 8–10 jam tidak sebanding dengan penghematan biaya yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Hall (2013) menegaskan bahwa biaya, waktu, ketersediaan, aksesibilitas, dan preferensi pribadi merupakan faktor-faktor penentu dalam pemilihan moda.
Kuota Bagasi dan Segmen Keluarga
Jalur darat juga memanjakan penumpang dengan kuota bagasi yang longgar tanpa biaya tambahan yang ketat.
“Kami terus berkomitmen menjaga keandalan armada dan ketepatan waktu. Infrastruktur jalan tol yang semakin baik membuat estimasi waktu perjalanan darat kini jauh lebih terukur. Jalur darat memiliki segmen loyal yang solid, terutama bagi keluarga yang bepergian bersama atau penumpang yang membawa barang bawaan dalam jumlah banyak,” ungkap perwakilan operator bus AKAP.
Pernyataan ini mencerminkan realitas pasar: bus bukan sekadar alternatif murah, melainkan moda yang secara fungsional lebih cocok untuk kebutuhan mobilitas mayoritas warga Lampung–Bandung.
Penerbangan hanya akan efektif jika menyasar segmen spesifik yang sangat mengutamakan waktu, namun segmen ini volumenya tidak cukup besar untuk menopang operasional maskapai secara konsisten.
Multimoda sebagai Masa Depan, Bukan Monopoli Udara
Kesimpulannya, pilihan moda masyarakat kini berada di posisi yang sangat diuntungkan karena memiliki alternatif multimoda yang saling melengkapi.
Jika prioritas adalah efisiensi waktu dan urgensi bisnis, penerbangan langsung adalah solusi terbaik. Namun, jika mengutamakan perjalanan santai yang ekonomis bersama keluarga dengan barang bawaan melimpah, layanan bus eksekutif tetap menjadi pilihan yang paling rasional.
Penghentian penerbangan Wings Air bukan kegagalan konsep konektivitas udara, melainkan sinyal bahwa pasar transportasi Lampung–Bandung memiliki karakteristik unik yang menuntut pendekatan berbeda bukan sekadar menyediakan pesawat, tetapi memahami mengapa orang memilih untuk tidak naik pesawat. (*)
-‐———————————————-‐–‐—————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















