Danantara dan Pertaruhan Strategi Lepas Landas Prabowo di 2026

Strategi Lepas Landas Danantara
Visi 2026: Presiden Prabowo Memaparkan Strategi "Lepas Landas" Ekonomi Indonesia dengan Danantara sebagai Lokomotif Baru Pengelolaan Aset Negara. (Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Dalam Forum Indonesia Economic Outlook 2026, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto, menyampaikan strategi “Lepas Landas” Danantara.

Forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara kemarin, bukan sekadar ajang seremonial. Presiden Prabowo Subianto melempar pernyataan yang cukup berani: Indonesia tidak lagi merangkak, melainkan bersiap lepas landas.

Bukan retorika kosong. Ada perubahan mendasar dalam cara negara mengelola aset lewat BP Danantara holding BUMN raksasa yang kini memegang kunci strategi ekonomi nasional.

Dari Tidur Nyenyak ke Lokomotif Ekonomi

Prabowo blak-blakan soal ini. “Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan aset negara tidur. Danantara harus jadi lokomotif yang lincah, bukan beban birokrasi. Kalau mau jadi pemain global, ya standarnya harus global,” kata dia di hadapan jajaran menteri dan pengusaha.

Langkah konkretnya? Merampingkan 1.000 entitas BUMN menjadi 300 di bawah payung Danantara. Target Return on Asset (RoA) ditetapkan 7% angka yang memaksa BUMN keluar dari zona nyaman.

Ini bukan cuma soal efisiensi. Ini tentang mengubah BUMN dari yang sering dianggap “tempat parkir politik” menjadi mesin penghasil kekayaan negara. Disiplin pasar mulai diterapkan pada perusahaan pelat merah.

APBN Rp3.786 Triliun: Belanja Pintar, Bukan Sekadar Besar

Kabinet Merah Putih mengintegrasikan kebijakan fiskal dengan pengelolaan aset negara. APBN 2026 memang besar Rp3.786,5 triliun tapi yang penting bukan angkanya, melainkan bagaimana uang itu diputar.

Pemerintah tidak hanya pintar menggelontorkan anggaran, tapi juga mulai cermat memutar modal negara lewat Danantara. Sinergi ini yang membedakan strategi ekonomi kali ini dengan era-era sebelumnya.

Lampung: Jangan Cuma Jadi Jalur Lintasan

Buat Lampung, ini peluang emas. Posisi geostrategis sebagai gerbang Sumatera seharusnya bisa dimaksimalkan bukan sekadar jadi jalur lewat orang ke Jakarta.

Program 1.000 Desa Nelayan dan Makan Bergizi Gratis membuka ruang besar bagi Lampung untuk jadi “dapur nasional”. Nanas, kopi, hasil laut semua ini seharusnya tidak lagi dijual mentah. Harus ada pengolahan, ada nilai tambah, ada integrasi ke rantai pasok Danantara.

Infrastruktur vital sudah dibangun. Tinggal bagaimana pemerintah daerah bisa menghubungkan sentra produksi lokal langsung ke pasar modern. Lampung punya modal, tinggal eksekusi.

Investasi Pendidikan: Taruhan Jangka Panjang

Satu hal yang patut diapresiasi: anggaran pendidikan tertinggi sepanjang sejarah Indonesia Rp757,8 triliun. Ini bukan angka simbolis. Ini investasi pada manusia, modal paling esensial dalam ekonomi modern.

Tanpa sumber daya manusia yang kompeten, semua rencana besar hanya akan jadi arsip. Prabowo sepertinya paham betul ini bukan sprint, tapi maraton panjang.

Orkestrasi yang Mulai Nyambung

Yang menarik, kali ini ada keselarasan antara pusat dan daerah setidaknya di Lampung. Gubernur responsif, kebijakan pusat diterjemahkan cepat di lapangan. Kalau pola ini konsisten, 2026 bukan lagi prediksi, tapi bukti nyata bahwa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara maju.

Tentu masih banyak PR. Tapi setidaknya, arahnya sudah jelas: kedaulatan ekonomi dimulai dari rumah sendiri yang rapi, aset yang produktif, dan visi yang terukur.

Apakah strategi “Lepas Landas” Danantara ini akan sukses? Kita lihat saja dalam 12 bulan ke depan. Yang pasti, kesempatan sudah terbuka lebar tinggal bagaimana kita memanfaatkannya untuk bersinergi dalam membangun. (*)

 

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan