Nomor HP Aktif 10 Tahun Mulai Dipertimbangkan untuk Menilai Kelayakan Pembiayaan

Nomor HP Aktif 10 Tahun Mulai Dipertimbangkan untuk Menilai Kelayakan Pembiayaan
Ilustrasi: Nomor HP Aktif 10 Tahun Mulai Dipertimbangkan untuk Menilai Kelayakan Pembiayaan

Wartaniaga.comJakarta, nomor HP aktif 10 tahun ternyata dapat menjadi salah satu data alternatif yang dipertimbangkan perusahaan pinjaman daring atau Pindar dalam menilai kelayakan calon nasabah.

Pemanfaatan data telekomunikasi tersebut menjadi perhatian karena tidak semua calon peminjam memiliki rekam jejak kredit yang cukup. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan Pindar dapat melihat sejumlah informasi alternatif untuk membantu menentukan kelayakan pembiayaan.

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menjelaskan bahwa perusahaan Pindar dapat memanfaatkan berbagai data alternatif. Selain data telekomunikasi, aktivitas calon nasabah di media sosial juga dapat menjadi salah satu informasi yang diperhatikan dalam proses penilaian.

Nomor HP Aktif 10 Tahun Jadi Data Alternatif

Penggunaan nomor HP aktif 10 tahun disebut dapat memberikan gambaran mengenai keberlangsungan penggunaan nomor telepon seseorang. Menurut Kuseryansyah, usia penggunaan nomor tersebut dapat menjadi salah satu indikator awal dalam penilaian calon nasabah, terutama bagi mereka yang belum mempunyai rekam jejak skor kredit yang memadai.

Ia menjelaskan bahwa data dari sektor telekomunikasi dapat digunakan secara sederhana untuk melihat riwayat keberadaan sebuah nomor. Nomor yang telah digunakan dalam jangka panjang dinilai memiliki informasi yang berbeda dibandingkan nomor yang baru saja aktif.

Dalam keterangannya, Kuseryansyah memberikan contoh nomor telepon yang telah digunakan selama 10 tahun. Sementara itu, nomor yang baru aktif dalam waktu sangat singkat dapat menimbulkan pertanyaan tambahan dalam proses penilaian. Data tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari scoring minimum yang digunakan Pindar.

Namun, penggunaan data alternatif bukan berarti nomor HP secara otomatis menjadi pengganti seluruh proses penilaian pembiayaan. Data tersebut merupakan salah satu informasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu perusahaan menilai calon peminjam, khususnya ketika informasi mengenai skor kredit belum memadai.

Pindar Manfaatkan Beragam Informasi Calon Nasabah

Menurut AFPI, pendekatan Pindar dalam menilai calon nasabah dapat berbeda dengan perusahaan pembiayaan konvensional. Perusahaan pembiayaan konvensional umumnya menjadikan skor kredit sebagai salah satu dasar dalam menentukan penyaluran pembiayaan.

Sementara itu, perusahaan Pindar dapat mempertimbangkan data alternatif. Informasi tersebut antara lain berasal dari sektor telekomunikasi dan aktivitas calon nasabah di media sosial. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bergantung pada satu jenis informasi ketika seseorang mengajukan pembiayaan.

Kondisi tersebut menjadi relevan bagi masyarakat yang belum memiliki rekam jejak kredit yang cukup. Pasalnya, keterbatasan riwayat kredit dapat menjadi salah satu persoalan ketika seseorang membutuhkan akses pembiayaan. Data alternatif kemudian dapat membantu perusahaan mendapatkan informasi tambahan mengenai calon peminjam.

Meski begitu, data alternatif tetap perlu dipandang sebagai bagian dari proses penilaian. Tidak terdapat informasi bahwa kepemilikan nomor HP selama 10 tahun secara otomatis menjamin seseorang memperoleh pinjaman atau pembiayaan.

Akses Kredit Menjadi Perhatian Pindar

Kuseryansyah juga menyoroti besarnya potensi pasar Pindar di Indonesia. Jumlah penduduk yang besar membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan target pasar yang penting bagi industri tersebut.

Menurutnya, gagasan mengenai akses pembiayaan tidak hanya ditujukan bagi masyarakat kelas menengah dan atas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih rendah juga dinilai memiliki hak untuk memperoleh akses pinjaman.

Karena itu, pemanfaatan data alternatif menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menjangkau masyarakat yang belum memiliki riwayat kredit panjang. Informasi seperti riwayat nomor telepon dapat memberikan tambahan gambaran ketika perusahaan melakukan penilaian terhadap calon nasabah.

Di sisi lain, perluasan akses pembiayaan juga berkaitan dengan kemampuan industri dalam menjangkau kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya dilayani lembaga keuangan konvensional. Pindar menjadi salah satu bagian dari pembiayaan non-bank yang berkembang untuk mengisi kebutuhan tersebut.

Pembiayaan Pindar Masih Memiliki Ruang Pertumbuhan

Data per November 2025 menunjukkan outstanding pembiayaan Pindar mencapai Rp94,85 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,45% secara tahunan. Meskipun demikian, skala pembiayaan tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan nasional.

Berbagai kajian memperkirakan total kebutuhan pembiayaan nasional mencapai Rp2.650 triliun. Sementara itu, lembaga jasa keuangan konvensional disebut baru mampu menopang sekitar Rp1.000 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan adanya celah pembiayaan yang cukup besar.

Hingga akhir 2025, celah pembiayaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp1.650 triliun. Angka itu menunjukkan masih besarnya kebutuhan pembiayaan yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh lembaga keuangan yang tersedia.

Terlebih lagi, kebutuhan pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan terus meningkat. Riset EY MSME Market Study and Policy Advocacy memperkirakan kebutuhan pembiayaan UMKM pada 2026 dapat mencapai Rp4.300 triliun, dengan estimasi credit gap sebesar Rp2.400 triliun.

Data Alternatif Membuka Peluang Penilaian Lebih Luas

Besarnya kebutuhan pembiayaan tersebut membuat penggunaan data alternatif menjadi semakin relevan dalam proses penilaian calon nasabah. Nomor HP aktif 10 tahun menjadi salah satu contoh informasi yang dapat digunakan perusahaan Pindar ketika calon peminjam tidak mempunyai rekam jejak kredit yang cukup.

Selain itu, data telekomunikasi bukan satu-satunya informasi yang dapat diperhatikan. Aktivitas calon nasabah di media sosial juga disebut sebagai salah satu sumber data alternatif dalam menilai kelayakan pembiayaan.

Dengan demikian, perkembangan industri Pindar tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan nilai pembiayaan, tetapi juga dengan cara perusahaan mengidentifikasi calon nasabah. Pemanfaatan berbagai informasi memungkinkan proses penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi calon peminjam yang mungkin belum tercatat secara lengkap dalam sistem skor kredit.

Namun, keberadaan nomor telepon yang telah digunakan dalam jangka panjang tidak dapat diartikan sebagai jaminan seseorang akan mendapatkan pembiayaan. Nomor HP merupakan salah satu data alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam proses penilaian, sementara keputusan pembiayaan tetap berada pada perusahaan Pindar berdasarkan mekanisme penilaian yang digunakan.

Pada akhirnya, pemanfaatan data alternatif menunjukkan adanya upaya industri pembiayaan digital untuk memperluas akses kredit. Di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan nasional dan UMKM, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari perkembangan sistem penilaian calon nasabah yang lebih beragam.