WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Dari Bumi Lampung ke Pasar Dunia: Kisah Sungai Budi Group Mengolah Singkong dan Sawit.
Dari Bumi Lampung ke Pasar Dunia: Kisah Sungai Budi Group Mengolah Singkong dan Sawit
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung adalah pintu gerbang Sumatra. Di sela hiruk-pikuk lalu lintas barang yang melintasi Selat Sunda, ada denyut ekonomi lain yang tak kalah hidup. Ia bersumber dari tanah, dari kebun singkong yang membentang hijau, dan dari perkebunan sawit yang merimbun di sepanjang jalan berliku.
Di jantung lanskap agraris itulah Sungai Budi Group, bersama bendera utamanya PT Tunas Baru Lampung Tbk, menjelma menjadi lokomotif perubahan. Perusahaan yang tumbuh dari usaha keluarga ini bukan sekadar pabrik raksasa.
SBG adalah bukti nyata bahwa komoditas mentah, ketika disentuh teknologi dan keberpihakan, bisa berubah menjadi energi ekonomi yang menghidupi ribuan rumah tangga.
Ketika Komoditas Bicara: Teori di Balik Pabrik
Mengolah singkong menjadi tepung tapioka, atau sawit menjadi minyak goreng dan margarin, bukanlah sekadar proses kimia. Ini adalah strategi pembangunan yang bernama hilirisasi.
Dalam bahasa ilmu ekonomi, langkah ini selaras dengan pemikiran Gunnar Myrdal tentang backward dan forward linkages.
Sederhananya: ketika pabrik berdiri di dekat ladang, rantai pasok memendek, biaya tertekan, dan nilai tambah mengendap di wilayah asal.
Yang terjadi kemudian adalah efek domino. Petani mendapat kepastian harga. Pekerja mendapat upah. Pedagang lokal mendapat pelanggan.
Lingkaran ekonomi itu berputar cepat, menciptakan kekuatan dari dalam, bukan menunggu belas kasihan pasar global.
“Strategi agroindustri berbasis hilirisasi di daerah tidak hanya menahan rantai nilai tetap berada di wilayah lokal, tetapi juga menciptakan stabilitas harga di tingkat petani saat pasar komoditas global bergejolak,” ujar Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, Ekonom Pertanian Universitas Lampung.
Menyatukan Pabrik dan Ladang
Di sinilah Sungai Budi Group menunjukkan perannya yang paling strategis. Mereka tidak menunggu petani datang; mereka membangun jembatan antara ladang dan tungku pabrik.
Di wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur, hingga Tulang Bawang, keberadaan pabrik menjadi sebuah kepastian di tengah ketidakpastian musim panen.
Bagi petani singkong, ini adalah anugerah. Hasil bumi yang dulu mudah membusuk karena tak ada pembeli, kini langsung diserap menjadi bahan baku tapioka dan turunannya.
Bagi petani sawit, pola kemitraan plasma memastikan mereka memiliki mitra bisnis yang jelas. Singkatnya, Sungai Budi Group telah menciptakan ekosistem di mana pabrik dan ladang bernapas dalam satu irama. (*)
————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















