Sementara itu, menyediakan pakan untuk kambing, yang bergantung pada hijauan segar yang variatif, jauh lebih kompleks dan berbiaya tinggi. Secara naluriah, peternak Lampung bergerak menuju efisiensi logistik pakan yang berkelanjutan.
Modernisasi Peternakan dan Efisiensi Skala
Lonjakan 121% ini bukan hanya soal pakan, melainkan juga konfirmasi adanya adopsi teknologi dan penetrasi modal di tingkat tapak.
Sesuai prinsip skala ekonomi, peningkatan kapasitas produksi akan menekan biaya rata-rata per unit.
Domba memiliki keunggulan perilaku lain: indeks kanibalisme dan tingkat stres yang rendah saat dipelihara dalam kandang koloni dengan kepadatan tinggi.
Hal ini memungkinkan peternak untuk melipatgandakan populasi dengan cepat di lahan yang sama.
Pola ini mempercepat perputaran modal karena laju pertumbuhan bobot harian domba, terutama hasil persilangan modern, jauh lebih stabil dan mudah diprediksi. Modernisasi diam-diam menggeser pola peternakan rakyat tradisional.
Menjaga Keseimbangan Pasar dan Plasma Nutfah
Ledakan produksi domba ini adalah peluang, namun perlu diimbangi dengan strategi hilirisasi yang tepat. Budaya konsumsi masyarakat Sumatra secara historis lebih kuat pada daging kambing.
Pemerintah daerah perlu segera bertindak: memperkuat rantai pasok ke pasar-pasar besar di luar daerah, seperti Jabodetabek, sekaligus mengedukasi pasar domestik untuk menyerap daging domba.
Di sisi lain, penurunan populasi kambing sebesar 2,38% tidak boleh diabaikan. Ini alarm untuk segera memberikan insentif, baik melalui teknologi reproduksi maupun program pemurnian genetik. Plasma nutfah kambing lokal harus tetap lestari di tanah lumbung ternak ini. (*)
————————————————————–
*Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















