WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Hilirisasi dan Pembiayaan Produktif, Fondasi Prabowonomic di Lampung.
Hilirisasi dan Pembiayaan Produktif, Fondasi Prabowonomic di Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Dari Bahan Mentah ke Nilai Tambah
Jika Features pertama menyoroti sisi distribusi dan kelembagaan desa, sisi produksi menjadi ujian sesungguhnya Prabowonomic di Lampung.
Gubernur Mirza menyatakan bahwa Lampung “tidak ingin hanya menjual bahan mentah” dan harus mengembangkan industri pengolahan.
Logika ini sejalan dengan tradisi Schumpeterian tentang creative destruction: inovasi industri mendorong pertumbuhan melalui penciptaan rantai nilai baru.
Dalam kerangka Rostow, hilirisasi adalah fase drive to maturity transisi dari ekonomi agraris ke struktur industri yang lebih matang.
Lampung, dengan produksi padi 3,2 juta ton dan jagung 1,7 juta ton, memiliki bahan baku yang cukup untuk melangkah ke fase itu.
Membiayai Transformasi dari Akar Rumput
Yang menarik, pembiayaan hilirisasi tidak sepenuhnya bergantung pada investor besar. Pemprov Lampung menyiapkan skema pinjaman tanpa bunga disubsidi melalui Bank Lampung agar petani dan UMKM dapat memiliki alat mesin pertanian serta mendirikan unit pengolahan mini: pabrik pakan, rice milling, hingga roaster kopi di desa.
Di sisi hulu, Pupuk Hayati Cair (PHC) dalam program “Desaku Maju” telah menaikkan hasil panen padi 10–20 persen dan mengurangi ketergantungan pupuk kimia secara bertahap.
Ini adalah intervensi di titik di mana kegagalan pasar paling akut: akses modal dan teknologi bagi produsen kecil.
Teori dan Kenyataan di Lapangan
Studi tentang Prabowonomics menegaskan bahwa efisiensi pemerintah daerah adalah faktor kontekstual yang krusial, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan.
Artinya, hilirisasi Lampung tidak cukup hanya dengan regulasi dan subsidi. Diperlukan kapasitas kelembagaan dari koperasi desa hingga birokrasi perizinan untuk memastikan nilai tambah benar-benar berhenti di Lampung.
Investasi yang masuk melalui Lampung Economic & Investment Forum 2026 menunjukkan minat pasar.
Kini bola ada di tangan eksekusi: apakah Prabowonomic di Lampung akan berhenti sebagai program, atau benar-benar menjadi mesin transformasi struktural. (*)
———————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















