Persaingan Usaha Sehat Kunci Hilirisasi Lampung Berkelanjutan

Persaingan Usaha Sehat Kunci Hilirisasi
Ilustrasi: OpiniMahe: Persaingan Usaha Sehat Kunci Hilirisasi Lampung Berkelanjutan. (Sumber Foto: Dok. WANI).

WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Persaingan Usaha Sehat Kunci Hilirisasi Lampung Berkelanjutan.

 

Persaingan Usaha Sehat Kunci Hilirisasi Lampung Berkelanjutan
Oleh: Mahendra Utama*

 

Mengapa Kompetisi Sehat Jadi Fondasi Hilirisasi?

Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya menciptakan iklim investasi kondusif melalui persaingan usaha sehat.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menekankan bahwa semua pelaku industri harus merasa nyaman dan berdaya saing di Lampung.

Pendekatan ini sejalan dengan teori Michael Porter tentang lima kekuatan kompetitif yang menekankan bahwa persaingan sehat mendorong inovasi, efisiensi, dan peningkatan produktivitas.

Dalam konteks hilirisasi, persaingan bukan penghambat, melainkan prasyarat agar nilai tambah tidak terkunci pada segelintir pelaku.

Teori HI-PER: Persaingan sebagai Isu Lintas Sektor

Anggota KPPU Dr. Eugenia Mardanugraha menegaskan bahwa “persaingan usaha yang sehat bukan hanya menjaga efisiensi pasar. Lebih dari itu, persaingan menjadi pendorong inovasi, produktivitas, investasi, tumbuhnya UMKM, dan pada akhirnya memperkuat daya saing perekonomian nasional”.

Kerangka Hilirisasi–Industrialisasi dan Penguatan Ekonomi Rakyat menempatkan persaingan sebagai isu lintas sektor dalam setiap kebijakan pembangunan.

Negara berperan sebagai market building state membangun kapasitas pasar melalui infrastruktur, kepastian hukum, dan pengawasan perilaku pasar, bukan menggantikan pasar itu sendiri.

Persaingan Sehat Perkuat Investasi Lampung

Lampung menargetkan peningkatan industri pengolahan hingga dua kali lipat, sejalan dengan arahan Presiden agar provinsi ini menjadi pusat hilirisasi komoditas pangan nasional.

Dengan PDRB mencapai Rp483,8 triliun pada 2024, Lampung berada di posisi keempat tertinggi di Sumatra.

Persaingan yang sehat memastikan manfaat hilirisasi dirasakan seluruh pelaku dalam rantai nilai dari petani kecil, UMKM, hingga industri pengolahan. Inilah fondasi transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (*)
—————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.