WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang tema utamanya mengulas tentang: Lampung sebagai Penopang Pangan Nasional.
Lampung sebagai Penopang Pangan Nasional
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung membuktikan posisinya sebagai tulang punggung pangan nasional. Produksi padi pada 2025 mencapai 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG), melonjak 16,53 persen dari 2,79 juta ton pada 2024.
Kementerian Pertanian menegaskan kontribusi Lampung terhadap produksi padi nasional meningkat dari 5,07 persen pada 2023 menjadi 5,97 persen pada 2025.
Namun, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengingatkan bahwa besarnya produksi belum cukup tanpa hilirisasi.
Urgensi Hilirisasi Komoditas Unggulan
Gubernur mengungkapkan bahwa nilai sektor primer Lampung mencapai sekitar Rp165 triliun, tetapi sebagian besar komoditas masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
“Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol,” ujar Mirza.
Data menunjukkan tapioka dikirim ke luar negeri, sementara produk turunannya seperti glukosa justru didatangkan dari luar.
Landasan Teori Sistem Inovasi Daerah
Kondisi ini memperkuat relevansi teori Sistem Inovasi Daerah (SID) yang menekankan interaksi antar aktor dalam suatu wilayah untuk menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan lokal.
FAO mendefinisikan sistem inovasi pertanian sebagai jaringan individu, organisasi, dan perusahaan yang fokus menemukan kegunaan sosial-ekonomi dari produk, proses, dan bentuk organisasi baru untuk mencapai keamanan pangan dan gizi.
National Cassava Center dan Ekosistem Hulu-Hilir
Langkah konkret telah diambil melalui penetapan Lampung sebagai lokasi National Cassava Center di Unila, hasil kerja sama Pemprov Lampung dengan Bappenas dan Sungai Budi Foundation.
Pusat ini berfokus pada riset pengembangan bibit unggul dengan kadar aci tinggi, melibatkan peneliti dan akademisi lintas universitas untuk mempercepat inovasi teknologi singkong nasional.
Dengan hilirisasi yang kuat, Lampung tidak hanya memperkuat kedaulatan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di angka 5,5 persen menuju target 8 persen. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















